Minggu, 19 Apr 2026

Rusia Kini Nyatakan Sikap Soal Perang AS dan Iran




Kasus Viral | Rusia kembali menegaskan sikapnya di tengah konflik yang terus memanas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Pemerintah di Moskwa mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi, sekaligus menyampaikan kecaman terhadap aksi militer yang masih berlangsung di kawasan tersebut.

Hal ini terungkap dalam percakapan telepon antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Kamis (2/4/2026), yang secara khusus membahas perkembangan terbaru situasi di Timur Tengah.

Dalam pembicaraan tersebut, Sergey Lavrov menegaskan bahwa Rusia mengecam agresi militer yang ditujukan kepada Iran. Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa Rusia saat ini tengah aktif melakukan komunikasi dan konsultasi dengan sejumlah negara di kawasan guna meredakan ketegangan yang semakin meningkat.

“Rusia menekankan pentingnya semua pihak untuk kembali ke jalur diplomasi dan penyelesaian politik,” demikian pernyataan yang disampaikan dalam percakapan tersebut, sebagaimana dikutip dari Tasnim News Agency.

Lebih lanjut, Sergey Lavrov menyampaikan bahwa pihaknya telah mengajukan berbagai inisiatif dan proposal sebagai bagian dari upaya menurunkan eskalasi konflik serta menjaga stabilitas keamanan di kawasan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya memiliki hak untuk melakukan pembelaan diri dalam rangka menjaga kedaulatan, keamanan nasional, dan keutuhan wilayah.

Ia juga mengecam keras serangan yang disebut menyasar sejumlah infrastruktur penting di Iran, termasuk universitas, jembatan, serta pusat penelitian. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius yang tidak dapat dibenarkan.

Selain itu, Abbas Araghchi menilai situasi yang tidak aman di Selat Hormuz merupakan dampak langsung dari agresi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Meski demikian, ia menyebut bahwa kapal dari negara-negara yang tidak terlibat konflik masih diperbolehkan melintas di wilayah tersebut dengan koordinasi bersama militer Iran.

Lebih jauh, ia juga memperingatkan rencana sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, yang ingin mendorong resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) terkait Selat Hormuz. Menurutnya, langkah tersebut justru berpotensi memperburuk situasi yang sudah tegang.

“Setiap tindakan provokatif, termasuk upaya terkait Selat Hormuz, hanya akan memperumit keadaan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penerbitan resolusi DK PBB bukanlah solusi, melainkan berpotensi menjadi bagian dari masalah yang lebih besar.

Tak hanya itu, Abbas Araghchi juga mengecam serangan terhadap situs budaya, termasuk sebuah gereja Ortodoks di Teheran, yang dinilainya sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional. Ia pun mendesak adanya respons tegas dari negara-negara serta lembaga internasional, termasuk UNESCO.

Dalam perkembangan tersebut, kedua menteri luar negeri sepakat untuk terus melanjutkan koordinasi dan konsultasi terkait isu bilateral, regional, maupun internasional guna meredakan ketegangan yang terjadi.

Sebagai latar belakang, konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mulai memanas sejak 28 Februari 2026, setelah dilancarkannya serangan militer besar-besaran ke berbagai target di Iran. Serangan tersebut mencakup fasilitas militer dan sipil yang mengakibatkan korban jiwa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, serta kerusakan infrastruktur yang signifikan.

Sebagai bentuk balasan, Iran kemudian meluncurkan serangan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah posisi militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut, yang semakin memperbesar eskalasi konflik dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas regional maupun global.


Super Admin

Rusli

Silakan Masuk untuk berkomentar di postingan ini!

Anda mungkin juga menyukai