- Oleh Rusli
- 20 Mar 2026
Kasus Viral | Pemerintah Iran pada Rabu (8/4/2026) menyatakan komitmennya untuk membuka Selat Hormuz selama dua minggu serta menyediakan jalur aman bagi aktivitas pelayaran di kawasan strategis tersebut. Langkah ini diambil seiring tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat.
Kesepakatan tersebut juga diiringi dengan rencana perundingan yang akan berlangsung selama masa jeda konflik. Diketahui, Iran akan memanfaatkan periode dua minggu ini untuk melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat guna mengakhiri perang, yang dijadwalkan dimulai pada Jumat (10/4/2026) di Islamabad, Pakistan.
Dalam pernyataannya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pembukaan jalur pelayaran dilakukan dengan mempertimbangkan aspek teknis serta koordinasi militer. “Selama dua minggu, dibuka jalur aman melalui Selat Hormuz melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” tulisnya melalui platform X.
Sementara itu, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dalam keterangan terpisah menyampaikan bahwa durasi negosiasi direncanakan berlangsung selama dua minggu, namun tidak menutup kemungkinan untuk diperpanjang apabila seluruh pihak mencapai kesepakatan bersama.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump pada Selasa (7/4/2026) waktu setempat lebih dulu mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata sementara tersebut. Ia menyebut keputusan ini diambil setelah melalui diskusi intensif dengan kepemimpinan Pakistan yang berperan sebagai mediator dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Sebelumnya, Donald Trump sempat mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran apabila Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz. Namun dalam pernyataan terbarunya, ia menyatakan kesiapan untuk menahan operasi militer selama masa gencatan senjata berlangsung.
“Saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran untuk jangka waktu dua minggu,” tulisnya, sebagaimana dilaporkan oleh BBC.
Ia juga menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bersifat timbal balik, dengan syarat utama Iran harus memastikan pembukaan Selat Hormuz secara penuh, cepat, dan aman. “Tunduk pada persetujuan Iran untuk melakukan pembukaan Selat Hormuz secara lengkap, segera, dan aman,” tegasnya.
Dengan adanya kesepakatan ini, Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi global diharapkan kembali beroperasi normal, setidaknya untuk sementara waktu. Selain itu, langkah ini juga membuka peluang bagi upaya diplomasi lebih lanjut guna meredakan ketegangan dan mencari solusi permanen atas konflik yang terjadi.