Minggu, 19 Apr 2026

Bahlil Lahadalia Klarifikasi Soal Ucapannya: "Matikan Kompor Setelah Masak"




Kasus Viral | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memberikan klarifikasi terkait pernyataannya yang sempat ramai diperbincangkan publik mengenai imbauan “matikan kompor setelah masak”. Pernyataan tersebut sebelumnya memicu berbagai reaksi di masyarakat karena dinilai terlalu sederhana dan dianggap tidak menyentuh akar persoalan energi yang lebih besar, terutama terkait kebijakan nasional dan distribusi energi.

Dalam penjelasannya, Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa ucapannya tidak dimaksudkan sebagai solusi utama persoalan energi, melainkan sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya efisiensi penggunaan energi dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebut bahwa kebiasaan kecil seperti memastikan kompor dimatikan setelah digunakan merupakan bagian dari upaya penghematan energi yang jika dilakukan secara kolektif dapat memberikan dampak signifikan.

“Saya tidak sedang menyederhanakan persoalan energi. Yang saya sampaikan itu bagian dari edukasi agar masyarakat lebih bijak menggunakan energi,” ujar Bahlil Lahadalia dalam keterangannya kepada media. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah tetap fokus pada kebijakan besar seperti diversifikasi energi, pengurangan impor BBM, dan pengembangan energi baru terbarukan.

Bahlil menekankan bahwa efisiensi energi harus dimulai dari dua sisi, yaitu kebijakan makro yang dilakukan pemerintah dan perilaku mikro di tingkat masyarakat. Menurutnya, keduanya tidak bisa dipisahkan. Kebijakan besar tanpa didukung perubahan perilaku masyarakat akan sulit mencapai hasil maksimal. Sebaliknya, perubahan perilaku tanpa dukungan kebijakan juga tidak akan berdampak luas.

“Ini bukan soal kompor saja. Ini soal kebiasaan hemat energi. Kita ingin membangun budaya baru dalam penggunaan energi,” jelas Bahlil Lahadalia.

Pernyataan tersebut juga dikaitkan dengan upaya pemerintah dalam menekan konsumsi energi rumah tangga, yang selama ini menjadi salah satu komponen signifikan dalam penggunaan energi nasional. Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas rumah tangga, efisiensi di level ini dianggap penting untuk menjaga keseimbangan pasokan dan konsumsi energi.

Meski demikian, Bahlil mengakui bahwa komunikasi kebijakan kepada publik perlu disampaikan dengan lebih utuh agar tidak menimbulkan salah tafsir. Ia menyebut bahwa potongan pernyataan yang beredar di media sosial seringkali tidak menggambarkan konteks lengkap dari apa yang disampaikan.

“Saya kira yang beredar itu potongan. Kalau dilihat utuh, maksudnya jelas bahwa ini bagian kecil dari langkah besar yang sedang kita kerjakan,” tambahnya.

Klarifikasi ini sekaligus menjadi penegasan bahwa pemerintah tidak hanya mengandalkan langkah-langkah sederhana dalam menghadapi tantangan energi nasional. Selain mendorong efisiensi di tingkat rumah tangga, pemerintah juga terus mempercepat transisi energi, termasuk pengembangan kendaraan listrik, peningkatan kapasitas energi terbarukan, serta penguatan infrastruktur energi di berbagai daerah.

Dengan adanya penjelasan tersebut, pemerintah berharap masyarakat dapat memahami bahwa imbauan yang disampaikan bukanlah bentuk penyederhanaan masalah, melainkan bagian dari pendekatan menyeluruh yang menggabungkan kebijakan strategis dan perubahan perilaku dalam penggunaan energi sehari-hari.

Super Admin

Rusli

Silakan Masuk untuk berkomentar di postingan ini!

Anda mungkin juga menyukai