Minggu, 19 Apr 2026

Bagi Trump Perang Hanyalah Bahan Bakar untuk Bisnis Dinastinya




Kasus ViralPameo lama bahwa perang adalah bisnis kembali mencuat di tengah konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung sekitar sebulan terakhir. Dalam situasi ini, peningkatan kebutuhan terhadap senjata, amunisi, peralatan militer, logistik, hingga teknologi tempur membuka peluang besar bagi perusahaan swasta untuk meraup keuntungan.

Seiring meningkatnya intensitas konflik, permintaan terhadap berbagai perlengkapan militer pun melonjak. Kondisi ini secara langsung mendorong aktivitas bisnis di sektor industri pertahanan, di mana sejumlah perusahaan terlibat dalam penyediaan kebutuhan perang. Dengan kata lain, di balik eskalasi konflik, terdapat perputaran ekonomi yang besar, khususnya bagi perusahaan yang bergerak di bidang teknologi militer.

Di tengah situasi tersebut, perhatian publik tertuju pada keterlibatan putra Presiden AS Donald Trump, yakni Eric Trump, dalam bisnis drone militer. Ia dikabarkan memiliki keterkaitan dengan perusahaan produsen drone asal Florida, Powerus, yang belakangan aktif menawarkan produknya ke kawasan Timur Tengah.

Perusahaan tersebut dilaporkan memasarkan drone pencegat kepada negara-negara Teluk yang saat ini menghadapi tekanan keamanan akibat konflik regional. Drone tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan pertahanan, khususnya dalam menghadapi ancaman rudal yang kerap terjadi di kawasan tersebut.

Dalam upaya memperluas pasar, salah satu pendiri Powerus, Brett Velicovich, menyebut bahwa pihaknya tengah melakukan berbagai presentasi penjualan, termasuk demonstrasi langsung teknologi drone di sejumlah negara Teluk. “Kami memiliki teknologi yang sangat luar biasa yang dapat menyelamatkan nyawa,” ujarnya. Meski demikian, ia tidak merinci negara mana saja yang sedang terlibat dalam pembicaraan tersebut.

Di sisi lain, Powerus membantah adanya konflik kepentingan terkait keterlibatan keluarga Trump dalam bisnis ini. Velicovich menegaskan bahwa fokus utama perusahaan adalah memperkuat kemampuan manufaktur drone Amerika agar mampu bersaing secara global. Ia juga menekankan bahwa perusahaan telah memiliki rekam jejak menawarkan teknologi serupa pada konflik sebelumnya, termasuk saat perang antara Israel dan Hamas.

Secara bisnis, Powerus diketahui mengalami perkembangan pesat. Perusahaan yang didirikan oleh para veteran Operasi Khusus Angkatan Darat AS ini awalnya berfokus pada penggunaan drone untuk sektor sipil seperti pertanian dan pemadam kebakaran. Namun dalam waktu singkat, mereka memperluas lini bisnis ke sektor militer seiring meningkatnya permintaan global.

Baru-baru ini, Powerus berhasil memperoleh pendanaan sebesar 60 juta dolar AS dan tengah menjajaki kerja sama dengan entitas bisnis yang berkaitan dengan keluarga Trump. Selain itu, perusahaan juga berupaya memanfaatkan peluang dari alokasi dana sebesar 1,1 miliar dolar AS dari Pentagon untuk penguatan industri drone nasional.

Menanggapi isu konflik kepentingan, Eric Trump sebelumnya menyatakan, “Saya sangat bangga berinvestasi di perusahaan yang saya yakini. Drone jelas merupakan gelombang masa depan.” Selain dirinya, perusahaan tersebut juga dikabarkan melibatkan Donald Trump Jr. dalam struktur bisnisnya.

Namun demikian, kritik tetap bermunculan. Richard Painter, yang pernah bertugas di bawah Presiden George W. Bush, menyebut bahwa situasi ini berpotensi menimbulkan persoalan etika. Ia mengatakan, “Negara-negara ini berada di bawah tekanan besar untuk membeli dari putra-putra presiden agar dia melakukan apa yang mereka inginkan.”

Ia bahkan menambahkan bahwa kondisi ini bisa menjadi preseden baru dalam sejarah politik Amerika. “Ini akan menjadi keluarga presiden pertama yang menghasilkan banyak uang dari perang, perang yang tidak ia dapatkan persetujuannya dari Kongres,” ujarnya sebagaimana dikutip dari laporan Associated Press.

Sementara itu, pihak Trump Organization tidak memberikan tanggapan terbaru terkait isu tersebut, meskipun sebelumnya telah membantah adanya konflik kepentingan. Keluarga Trump juga menyatakan bahwa mereka kini lebih terbuka dalam mengembangkan bisnis dibandingkan pada masa jabatan pertama, di mana mereka mengklaim sempat terlalu berhati-hati.

Dengan perkembangan ini, keterkaitan antara konflik geopolitik dan kepentingan bisnis kembali menjadi sorotan. Di satu sisi, perusahaan teknologi militer berkembang pesat karena kebutuhan pasar. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai batas antara kepentingan bisnis pribadi dan kebijakan publik, terutama ketika melibatkan figur yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan.

Super Admin

Rusli

Silakan Masuk untuk berkomentar di postingan ini!

Anda mungkin juga menyukai